Perpustakaan Tempatnya Peradaban Dunia

oleh Hilman Firmansyah

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Hal itu karena ketika manusia purba mulai menggores dinding gua tempat mereka tinggal, sebenarnya mereka mulai merekam pengetahuan mereka untuk diingat dan disampaikan kepada pihak lain. Mereka menggunakan tanda atau gambar untuk mengekspresikan pikiran dan/atau apa yang dirasakan serta menggunakan tanda-tanda dan gambar tersebut untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain.[1]

Di perpustakaanlah tempat mengkomunikasikan ekspresi gagasan yang tertuang dalam karya ilmu pengetahuan, sehingga tidak berlebihan bila istilah dalam judul tersebut dimunculkan. Berbagai ilmu pengetahuan terekam dan terkumpul di perpustakaan, baik terekam dalam koleksi cetak maupun non-cetak, dari mulai karya umum, filsafat, agama, sosial, bahasa, ilmu eksakta, teknologi, seni, sastra sampai kepada sejarah dan geografi.

Namun demikian, tidak semua orang dan negara sadar akan hal tersebut, bukti nyata ketika terjadi penyerangan sekutu Amerika terhadap negeri Irak, perpustakaan dan mueseum pun tak luput menjadi korban keganasan Amerika dan sekutunya. Sungguh hal yang sangat memalukan, dilakukan oleh negara yang notabene adalah pejuang Hak-hak Azasi Manusia di dunia.

Terekam dalam sebuah media: “WANITA setengah baya menjerit hiteris di depan Museum Nasional Irak, pusat kota Baghdad. Dengan berurai air mata, ia melontarkan sumpah serapah. ”Lihatlah ulah sekelompok manusia biadab, telah menghancurkan karya agung umat manusia,” katanya berapi-api, sembari tangannya menunjuk benda- benda museum yang porak-poranda.[2]

Betapa ngeri, betapa pilu, betapa pedih mengiris-ngiris hati, sumber pengetahuan sejarah yang telah terpelihara beribu-ribu tahun, jembatan pengikat antara dua peradaban manusia, yakni peradaban masa lalu yang klasik dan peradaban masa sekarang yang serba modern hancur porak-poranda, luluh lantah hanya dalam sekejap. Semoga tidak terjadi kembali peristiwa yang mengerikan ini.

Perpustakaan sebagai tempat beradaban dunia tidak hanya berisi benda-benda mati, namun juga tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin merubah dirinya ke arah yang lebih baik, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tahu menjadi lebih mengerti. Dengan semakin sering berkunjung ke perpustakaan, semakin bertambah pula ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Dalam Undang-Undang Perpustakaan No 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 1 menyatakan Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Sejalan dengan UU tersebut, keberadaan perpustakaan saat ini semakin bervariatif dengan munculnya teknologi canggih, tidak hanya buku atau koleksi cetak saja, tetapi perpustakaan saat ini telah dilengkapi dengan berbagai koleksi audio visual, sehingga pengunjung akan merasakan kenyamanan, dan dimanjakan dengan alunan musik. Tidak hanya itu, pengunjung bisa berkeliling dunia menjelajah dunia maya, dari negara satu ke negara lainnya hanya dengan duduk di depan komputer dengan menggunakan fasilitas internet yang ada di perpustakaan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: