Pemberdayaan Ikatan Pustakawan Indonesia terhadap Kompetensi Pustakawan

A. Pendahuluan

Ikatan Pustakawan Indonesia adalah organisasi profesi bagi pustakawan yang di dirikan di Ciawi, Bogor pada tanggal 6 Juli 1973. Selama 36 tahun pendiriannya apa yang telah dilakukan IPI, apa bisa mensejajarkan dengan organisasi lain seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), atau dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Memang tidak mudah untuk mensejajarkan dengan organisasi profesi lain, banyak hal yang karakteristiknya berbeda dengan yang lain, salah satunya adalah keanggotaan IPI, ternyata di IPI tidak harus berpendidikan ilmu perpustakaan, dari ilmu lainpun boleh asal memiliki komitmen atau kepedulian terhadap perpustakaan, sebagaimana dalam Anggaran Dasar IPI sebagai berikut:

Pasal 15

Anggota

(1)   Anggota Ikatan Pustakawan Indonesia terdiri dari :

a.     Anggota Biasa;

b.     Anggota Luar Biasa;

c.     Anggota Kehormatan.

(2)   Anggota Biasa adalah :

a. Warga negara Indonesia yang berpendidikan dan berpengalaman di bidang
perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo)

b. badan/Lembaga yang bergerak di bidang perpustakaan, dokumentasi dan informasi (pusdokinfo)

(3)   Anggota Luar Biasa adalah:

Warga negara yang tidak berlatar belakang    pendidikan dan pelatihan
pusdokinfo dan / atau tidak berprofesi di bidang pusdokinfo.

(4)   Anggota Kehormatan adalah :

a.     Mantan anggota Pengurus atau Badan Pembina yang karena jasanya kepada IPI diangkat sebagai Anggota Kehormatan.

b.    Anggota kehormatan ditingkat Pusat ditetapkan oleh Kongres atas usul Pengurus Pusat.

c.     Anggota kehormatan ditingkat Daerah ditetapkan oleh Musyawarah daerah atas usul Pengurus Daerah.

Berdasarkan keanggotaan tersebut, ternyata latar belakang pendidikan anggota IPI beragam, tidak hanya berlatar belakang pendidikan perpustakaan (pusdokinfo), dari latar belakang pendidikan lain pun bisa menjadi anggota IPI. Hal ini berbeda dengan organisasi profesi yang lain, pendidikan mereka sesuai dengan bidangnya saja. Di samping permasalahan keanggotaan, kepercayaan diri pustakawan pun berpengaruh terhadap kiprah IPI. Fenomena di lapangan menunjukkan, tidak sedikit pustakawan yang malu-malu mengakui dirinya sebagai pustakawan, dengan karena berbagai alasan. Menurut penullis, hal ini akan berdampak pada pemberdayaan Ikatan Pustakawan Indonesia, karena anggotanya sendiri tidak merasa bangga terhadap pustakawan.

B. Pentingnya Peran Ikatan Pustakawan Indonesia

Berdasarkan latar belakang tersebut, peran IPI sangat penting untuk memberdayakan IPI sehingga dapat sejajar dengan organisasi profesi lainnya, serta dapat meningkatkan perannya bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Hal tersebut didukung dengan semakin berkembangnya teknologi informasi yang mengemas pustaka tidak hanya dalam bentuk cetak saja, tetapi juga dalam bentuk digital. Kompetensi Pustakawan sangat dibutuhkan untuk mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

Peran IPI untuk meningkatkan kompetensi pustakawan dengan memberdayakan pustakawan agar memahami, bahkan menguasai teknologi informasi sangat diperlukan, dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan, lokakarya atau seminar untuk menambah wawasan dan kemampuan pustakawan. Hal tersebut sesuai dengan tujuan anggaran dasar IPI diantaranya adalah meningkatkan profesionalisme pustakawan Indonesia.

Satu Tanggapan to “Pemberdayaan Ikatan Pustakawan Indonesia terhadap Kompetensi Pustakawan”

  1. Pemberdayaan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) « UPT PERPUSTAKAAN … Says:

    […] Pemberdayaan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) « UPT PERPUSTAKAAN … […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: