Partisipasi/Peran serta Masyarakat dalam Mencerdaskan Masyarakat

Partisipasi / peran serta Pustakawan dalam Mencerdaskan Masyarakat

Oleh Hilman Firmansyah

I. Partisipasi

    Partisipasi adalah perihal turut berperasn serta dalam suatu kegiatan ; keikutsertaan; peran serta. Depdikbud (2002)

    Isatilah-istilah lain yang merupakan sinonim dari partisipasi adalah menurut Santoso Sastrosapoetro (1986) adalah keikutsertaa, keterlibatan dan partisipasi.

    Gordon W. Allport (1945) dalam Sastrosapoetro (1986), menyatakan “The person who participates is ego-involved instead of merely taks-involved”. (Bahwa seseorang yang berpartisipasi sebenarnya mengalami keterlibatan dirinya/egonya yang sifatnya lebih daripada keterlibatan dalam pekerjaan atau tugas saja”) Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya. Atau misalnya anda berpartisipasi/ ikut serta (dapat anda rasakan sendiri), maka anda melakukan kegiatan itu karena menurut pikiran anda perlu dan bahwa persaaan andapun menurut pikiran anda perlu dan bahwa perasaan andapun menyetujui/berkenan untuk melakukannya.

    Keit Davis dan John W. Nestrom (1995:179) partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional orang-orang dalam sistuasi kelompok yang mendorong mereka untuk memberikan kontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab pencapaian tujuan itu.

    Keterlibatan mental dan emosional. Pertama, dan barangkali yang paling utama, partisipasi berarti keterlibatan mental dan emosional ketimbang hanya berupa aktivitas fisik.

    Motivasi kontribusi. Gagasan kedua yang penting dalam partisipasi adalah bahwa ia memotivasi orang-orang untuk memberikan kontribusi. Mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan sumber inisiatif dan kreativitasnya guna mencapai tujuan organisasi, sama sperti yang diprediksi
    Teori Y. Dengan demikian, partisipasi berbeda dari “kesepakatan”

    Berdasarkan pendapat tersebut di atas dapat diterjemahkan sebagai berikut:

    Partisipasi dapat didefenisikan sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi /perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan.

    Di dalamnya terdapat tiga buah gagasan yang penting artinya bagi para manajer/pimpinan yang hendak menerapkan partisipasi dan kebanyakan dari mereka sependapat dengan tiga buah gagasan tersebut.

    Ada tiga buah unsur penting yang dimaksud Keith Davis dan memerlukan perhatian khusus adalah:

    1. Bahwa partisipasi sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan perasaan, lebih daripada semata-mata atau hanya keterlibatan secara jasmaniah.
    2. Unsur kedua adalah kesediaan memberi sesuatu sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok. Ini berarti, bahwa terdapat rasa senang, kesukarelaan untuk membantu kelompok. Seseorang menjadi anggota kelompok dengan segala nilainya.
    3. Unsur ketiga adalah unsure tanggung jawab.

    Unsur tersebut merupakan segi yang menonjol dari  rasa menjadi anggota. Diakui sebagai anggota artinya ada rasa “sense of belongingness”.

    II. Pustakawan

      Pustakawan adalah orang yang bergerak di bidang perpustakaan. (Depdikbud, 2002).

      Kemudian menurut kode etik Ikatan Pustakawan Indonesia dikatakan bahwa yang disebut pustakawan adalah seseorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan, sedangkan menurut kamus istilah perpustakaan karangan Lasa, H.S. Librarian – pustakawan, penyaji informasi adalah tenaga profesional dan fungsional di bidang perpustakaan, informasi maupun dokumentasi. Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah orang yang memiliki pendidikan perpustakaan atau ahli perpustakaan atau tenaga profesional di bidang perpustakaan dan bekerja di perpustakaan. Jadi pustakawan adalah seseorang yang profesional atau ahli dalam bidang perpustakaan. (Samuel Ramdan)

      III. Partisipasi Pustakawan Mencerdaskan Masyarakat

        Masyarakat menurut Djojodigoesno dalam Mansyur (tanpa tahun:21) mempunyai arti sempit dan luas. Arti sempit masyarakat ialah yang terdiri dari satu golongan saja, misalnya masyarakat India, Arab dan Cina. Arti luas masyarakat ialah kebulatan dari semua perhubungan yang mungkin dalam masyarakat, jadi meliputi semua golongan.

        Berdasarkan teori sebelumnya dapat dikatakan bahwa partisipasi pustakawan adalah sebagai keterlibatan mental/pikiran dan emosi /perasaan pustakawan di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta turut bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan usaha yang bersangkutan di sini adalah usaha pustakawan dalam berusaha mencerdaskan masyarakat.

        Partisipasi pustakawan dalam mencerdaskan masyarakat, sangat dibutuhkan, terutama oleh masyarakat penggunanya. Dengan kelengkapan informasi pengetahuan yang berada di sekitarnya, pustakawan merupakan jantungnya penebarluasan informasi. Tanpa pustakawan mustahil informasi yang ada di sekitarnya dapat sampai kepada penggunanya. Namun demikian, pustakawan yang bagaimana yang dapat mencerdaskan masyarakatnya, yaitu pustakawan yang memiliki kompetensi dan kemauan keras untuk senantaisa memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap penggunanya. Berbagai permasalahan yang dibawa oleh anggota ketika berada di perpustakaan, pustakawan harus peka dan peduli, jangan sampai pustakawan hanya menjawab tau dan tidak tahu, tetapi pustakawan harus lebih dari itu, harus bisa merujuk dan menunjukkan kebutuhan informasi dari anggotanya. Apalagi dengan kehadiran teknologi informasi yang ada, menambah mudah pustakawan untuk bekerja turut mencerdaskan masyarakatnya.

        Pengetahuan pustakawan harus selalu diupdate agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Dengan semakin menambah pengetahuan pustakawan akan semakin tahu dan dapat merujuk atau memberikan arahan kepada pembaca di perpustakaan.

        Di samping kemanfaatan bagi para pembaca di perpustakaan, pustakawan juga harus peduli terhadap masyarakat sekitarnya, karena kemanfaatan perpustakaan harus juga dapat dinikmati oleh masyarakat sekitarnya, “library for all itulah” istilah yang saat ini sering kita dengar di kalangan pustakawan dan perpustakaan baik perpustakaan sekolah, umum maupun perpustakaan perguruan tinggi.

        Semoga dengan semakin perkembangan dan kemudahan informasi dan teknologi saat ini dapat meningkatkan pula partisipasi pustakawan terhadap masyarakat.

        DAFTAR PUSTAKA

        M. Cholil Mansyur. Sosiologi Masyarakat Kota dan Desa, Surabaya: Usaha Nasional.

        R.A. Santoso Sastropoetro, 1986. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi dan Disiplin dalam pembangunan nasional. Bandung: Alumni.

        Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud-Balai Pustaka.

        Keith Davis, John W. Newstrom. Perilaku Dalam Organisasi, Jakarta: Erlangga.

        Samuel Randan. PUSTAKAWAN IDAMAN MASYARAKAT PENGGUNA PADA BADAN PERPUSTAKAAN PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR.

        Tinggalkan Balasan

        Please log in using one of these methods to post your comment:

        Logo WordPress.com

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

        Gambar Twitter

        You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

        Foto Facebook

        You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

        Foto Google+

        You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

        Connecting to %s


        %d blogger menyukai ini: