Pendayagunaan Media Pembelajaran

Pendayagunaan Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Menurut Faturrohman (2007:65) kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti ‘tengah’. ‘perantara’, ‘pengantar’. Atau dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.

Gearlach dan Ely (1971) dalam Faturrohman (2007:65) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.

Dalam aktivitas pembelajaran, media menurut Faturohhman (2007:65) adalah sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.

Berdasarkan pendapat tersebut di atas, media pembelajaran adalah pengantar pesan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.

2.Fungsi Media

Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang kongkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitas.

Dalam proses belajar mengajar, fungsi media menurut Nana Sudjana (1991) dalam Faturrohman (2007:66) yakni:

–          Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.

–          Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. Ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang harus dikembangkan guru;

–          Media dalam pengajaran, penggunaannya bersifat integral dengan tujaun dan isi pelajaran;

–          Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata sebagai alat hiburan yang digunakan hanya sekedar melengpai proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa;

–          Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru;

–          Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Sedangkan menurut Faturrohman (2007:67) lebih detail fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran diantaranya:

  1. Menarik perhatian siswa.
  2. Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran.
  3. Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersisfat verbalistis (dalam bentuk  kata-kata tertulis atau lisan)
  4. Mengatasi keterbatasan ruang.
  5. Pembelajran lebih komunikatif dan produktif.
  6. Waktu pembelajran bisa dikondisikan.
  7. Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar.
  8. Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu/menimbulkan gairah belajar.
  9. Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam serta;

10.  Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran.

Bertolak dari uraian di atas, maka diharapkan pemahaman guru terhadap media menjadi jelas, sehingga dapat memanfaatkan media secara tepat. Oleh karena itu, guru perlu menentukan media secara terencana, sistematik dan sistemik (sesuai system belajar mengajar).

Rasyid, 2009, mengatakan dalam mendayagunakan sumber/media, kurikulum perlu dianalisis. Kurikulum dilihat secara terpadu (integrated), yaitu :

1. Aspek materi/subjek yang perlu dipelajari.

2. Aspek tujuan, yaitu pemahaman/penguasaan pesan yang terkandung didalam materi

3. Aspek pengalaman belajar, yaitu apa yang harus dilakukan oleh siswa untuk menguasai penguasaan tersebut

Aspek pertama dan kedua lazimnya sudah ditentukan dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), sedangakan aspek yang ketiga masih perlu dipirkan lebih jauh oleh guru. Justru yang ketiga inilah yang mengandung peluang besar untuk terwujudnya pembelajaran yang akif, jika penggunaan media/sumber belajar itu dirancang dengan baik.

Sebagai contoh jika seorang guru ingin menyajikan sebuah pesan yang terkandung di dalam istilah “prustasi” pesan tersebut dapat dibungkus dengan berbagai simbol : simbol verbal lisan, verbal tulissan, piktorial dan gerak ataupun gabungan dari beberapa simbol tersebut.

Untuk mengangkut simbol verbal lisan, medianya adalah bahasa guru ataupun kaset rekaman; simbol verbal tulisan medianya surat, teks, guntingan, surat kabar, ;simbol piktorial medianya gambar ilustrasi, foto;simbol gerak medianya mimik dan pantomim mimik dan seterusnya.

Contoh diatas menunjukkan beberapa hal yaitu :

1. Ada unsur keterkaitan antara komponen materi, tujuan, pengalaman, belajar, media dan metode, adanya keterpaduan antara komponen itu penting karena media itu hanya sebuah komponen dari sekian banyak komponen yang lain dari sistem intruksional. Selaku sebuah komponen hanya jelas fungsinya kalau terstruktur di dalam sistemnya. Karena itu tidak benar jika media diadakan hanya mengada-ada ataupun hanya sekedar hiburan /selingan.

2. Betapa banyaknya alternatif media yang dapat digunakan untuk menghantar dan menguasai pesan yang terkandung di dalam suatu materi. Untuk mengangkut sebuah sistem lambang yang membungkus pesan dapat digunakan berbagai macam media.

3. peluang cukup besar untuk memilihnya jika guru belum sanggup atau sulit untuk membuatnya, mka ia dapat menggunakan media yang telah tersedia dan tinggal dipakai

Dalam soal memilih media ini M.C. Connel (1974) dalam Rasyid (2009) menyatakan “If the medium fits used it” pernyataan ini mengndung beberapa makna yang dapat dijadikan petunjuk, yaitu :

a. pemilihan media sangat fleksibel karena jenisnya bervariasi

b. situasi dan kondisi lingkungan merupakan faktor penting untuk dijadikan pangkal otak pemilihan.

c. Kriteria kesempurnaan media cukup banyak tetapi perlu diingat bahwa tidak ada barang yang sempurna di dunia ini (jika tidak ada rotan akarpun jadi, asal jangan sembarang akar)

3.Kualitas Komunikasi sebagai Acuan Media

Proses berkomunikasi antara guru dengan siswa adalah wujud dari proses belajar mengajar. Otomatis kualitas berkomunikasi sangat ikut menentukan kualitas proses beljar mengajar dan hasilnya, pertanyaan yang timbul, berkomunikasi yang bagaimana dikatakan berkualitas?. Yang menjadi kriteria terakhir adalah jelas dan tepatnya pesan yang diterima oleh siswa dan respon pesan dari siswa yang diterima oleh guru, termasuk lancarnya berkomunikaasi itu sendiri. Kmunikasi yang tidak lancar yang sering menimbulkan communicatio gap (ketimpangan komunikasi) dan misundastanding (kesalah pahaman). Sesuatu yang menimbulkan akibat yang sangat fatal jika terjadi di dalam peperangan; di dalam proses belajar mengajar tujuan tidak tercapai.

Tanpa mengabaikan persyaratan-persyaratan lain untuk berlangsungnya komunikasi yang berkualits seperti persyaratan psikolgis dn lain-lain. Dapat dipastikan bahwa media/sumber sangat ikut menentukan kualitas komunikasi dalam proses belajar mengajar. Hal ini akan terlihat dari fungsi yang beraneka ragam yang dapat dierankan oeh media sebagai sarana penunjang proses belajar mengajar seperti menyederhanakan yang kmpleks, memfokuskan perhatian, mendorong dan mengarahkan berfikir, melayani siswa secara individu/kekompakan dan seterusnya.

Pada hakikatanya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Komunikasi adalah proses pengoperan lamban-lambang yang bermakna antara individu. Lmbang-lambang (signal) yang dimaksud dapat berbentuk lambang yang didengar sperti bunyi, atau berbentuk lambang-lambang yang dapat dilihat seperti gambar-gambar, huruf, sketsa dan lain-lain. Proses kemungkinan, yakni (1) komunikasi searah, (2) komunikasi dua arah, (3) komunikasi multi arah. Tentunya komunikasi yang diharapkan adalah komunikasi multi arah. Komunikasi multi arah adalah komunikasi yang terjadi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, dan sebaliknya.

Seorang guru perlu menyadari bahwa proses komunikasi yang tidak selalu dapat berjalan dengan lancar, bahkan proses komunikasi yang kurang baik dapat menimbulkan kebingungan, salah pengertian, bahkan mungkin menimbulkan salah konsep. Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan-kemungkinan terjadinya salah komunikasi maka harus digunakan media.

Untuk mengoptimalkan pencapaian sutu kegiatan belajar mengajar atau dengan kata lain bahwa media pembelajaran segala sesuatu yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingg tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sedangkan alat peraga adalah alat pembelajaran yang dapat langsung mempermudah peserta didikterhadap konsep tertentu. Jadi alat peraga adalah bagian dari media, tetapi tidak semua media adalah alat peraga. Pengalaman yang konkrit perlu untuk mampu berfikir pada tingkat yang abstrak. Oleh karena itu, pengalaman-pengalaman harus disusun menjadi pola baru, maka salah satu jembatannya agar siswa mampu berfikir abstrak adalah media pembelajaran. Papan sederhana ini memerlukan pengembanagan lebih lanjut, sehingga bisa menjadi pedoman dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: