Hasil Belajar

Hasil Belajar

Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsure yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman (proses) belajar mengajar, dan hasil belajar. Keberhasilan pengajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa, tetapi juga dari segi prosesnya. Hasil belajar pada dasarnya merupakan akibat dari suatu proses belajar. Ini berarti bahwa optimalnya hasil belajar siswa bergantung pula pada proses belajar siswa dan proses mengajar guru. Oleh sebab iu, perlu dilakukan penilaian terhadap proses belajar mengajar. Tujuan penilaian proses belajar-mengajar pada hakikatnya adalah untuk mengetahui kegiatan belajar-mengajar, termasuk efisiesi, keefektifan, dan produktivitasnya dalam mencapai tujuan pengajaran.

Menurut Sujana (2001:65) dimensi penilaian proses belajar-mengajar berkenaan dengan komponen-komponen belajar mengajar seperti tujuan pengajaran, bahan pengajaran, metode dan alat, kegiatan belajar siswa, kegiatan mengajar guru, dan penilaian. Kriteria yang digunakan dalam menilai proses belajar-mengajar antara lain adalah konsistensi kegiatan belajar-mengajar dengan kurikulum, keterlaksanaannya oleh guru, keterlaksanaannya oleh siswa, motivasi belajar siwa, keaktifan siswa, interaksi guru-siswa, kemampuan atau keterampilan guru, kualitas hasil belajar siwa. Sumber data dalam penilaian tersebut adalah guru, siswa, tenaga kependidikan lainnya, dan juga orang tua siswa. Penilaian menggunakan alat-alat bukan tes (nontes) seperti kuesioner, wawancara, observasi skala penilaian, dan sosiometri.

Horward Kingsley dalam Sujana (2002:22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Dalam system pendidikan nasonal rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni (a) gerekan reflex, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) kemampuan perspetual, (d) keharmonisasi atau ketepatan, (e) gerakan keterampilan kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretative.

Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar. Di antara ketiga ranah itu, ranah kognitif yang paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: