Satu Tahun Pemerintahan SBY-Boediono

Tanggal 20 Oktober 2010, merupakan suatu momentum satu tahun pemerintahan SBY-BOEDIONO. Peringatan setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono disemarakan aksi unjuk rasa di berbagai kota di Indonesia. Di Jakarta, aksi unjuk rasa terjadi di belasan titik uang melibatkan ribuan orang yang tergabung dalam puluhan organisasi mahasiswa, buruh, pemuda, serta kaum miskin perkotaan.

Unjuk rasa anarkis, terjadi di kota Makasar yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Negeri Makasar, mereka melakukan demonstrasi seolah bukan kaum intelektual dengan cara merusak mobil dinas pemerintah, menutup jalan umum, bahkan saling lempar batu dengan aparat keamanan. Sungguh sangat ironis, dengan misi perbaikan pemerintahan yang mereka inginkan, sementara mereka melakukannya dengan cara yang tidak patut, bahkan sangat keluar dari koridor etika dan moral bangsa. Kegiatan demonstrasi mereka juga dilakukan sebagai bentuk penolakan atas kehadiran presiden SBY ke Makasar untuk membuka dialog gubernur se-Indonesia, serta kegiatan untuk meresmikan beberapa proyek di Sulawesi.

Kegiatan demonstrasi mahasiswa dalam rangka menyambut satu tahun pemerintahan SBY-Boediono dilakukan pula di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Bandung, Surakarta, Bogor, Lamongan dan daerah lainnya. Kegiatan demo yang mereka lakukan pada umumnya sebagai bentuk kekecewaan atas kinerja pemerintahan selama satu tahun. Pengunjuk rasa mengusung tuntutan kesejahteraan yang belum dipenuhi selama satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Tuntutan pengunjung rasa diantaranya menurunkan harga dan bahan kebutuhan pokok, hak perumahan dan transportasi yang murah, reformasi agrarian, pendidikan dan kesehatan gratis, hapuskan upah minimum, menghapus utang lama dan tolak utang baru, nasionalisasi industry asing, dan membangun industry nasional di bawah kontrol rakyat.[1]

Di samping itu berdasrkan pemberitan di beberapa media televisi beranggapan, bahwa pemerintahan SBY-Boediono tidak peduli sama rakyat, dari berbagai aspek kinerja pemerintahan kurang baik, diantaranya: penegakan hukum tidak pernah tuntas, seperti kasus Bank Century, Mapia Pajak, Mapia Peradilan dll. Demikian pula kinerja pemerintah di bidang ekonomi, mereka anggap tidak pro pada rakyat, misalnya akan dilakukan kembali kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), pengalihan konversi minyak tanah terhadap gas, yang akhirnya berujung berbagai korban jiwa, terutama rakyat kecil bahkan harta benda. Hal ini akibat seringnya terjadi kebocoran dan kerusakan kompor gas, yang berakibat pada terjadinya kebakaran, salah satunya terjadi di Desa Heleut Kadipaten Kabupaten Majalengka, akibat ledakan gas elpiji suami isteri meninggal dunia, anak dan cucu korban yang terjadi pada Rabu 13 Oktober 2010.[2]

Pada pemerintahan SBY-Boediono selama setahun, juga sering terjadi kecelakaan di bidang transportasi, baik darat, laut maupun udara. Baru-baru ini terjadi kecelakaan kereta api yang terjadi di Pemalang Jawa Tengah, dengan jumlah korban yang sangat besar, ditambah lagi dengan musibah bencana alam yang terjadi di mana-mana, dan yang paling mengerikan adalah banjir di Wasior Papua, menelan korban jiwa yang sangat besar. Kepekaan pemerintah pada kasus banjir Wasior ini, menurut penuturan Megawati (Ketua PDI Perjuangan) dianggap kurang peka dan kurang tanggap.

Rupanya selama setahun pemerintahan, masih banyak yang harus dibenahi, tak terkecuali dari sektor keamanan, dimana-mana sering terjadi konflik, baik berawal dari permasalahan suku, seperti terjadi di Kalimantan antara suku Dayak dan Bugis; permasalahan agama dan keyakinan terjadi di daerah Kuningan, Cirebon dan Bogor berkaitan dengan jamaah Ahamadiyah, masyarakat menggap pemerintah kurang tegas dalam menangani kasus tersebut yang terus berlarut-larut tak kunjung usai; kasus tentang rencana pembangunan gereja HKBP yang ditentang oleh masyarakat di sekitarnya, menimbulkan kerusakan bangunan, bahkan membuat luka jamaah HKBP.

Satu tahun pemerintahan SBY menurut para ahli pun dianggap kurang baik, bahkan menurut Sofyan Wanandi memberikan nilai merah untuk kinerja pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam bidang ekonomi setahun terakhir. Sekalipun banyak program perbaikan yang dibahas pemerintah, relatif tak ada perbaikan yang dilakukan.[3] Selanjutnya menurut Sofyan, bukti paling jelas kegagalan pemerintahan dalam bidang ekonomi adalah angka pertumbuhan ekonomi yang jauh tertinggal dari Negara-negara tetangga, bahkan di bawah Thailand yang sedang mengalami konflik. Pertumbuhan Ekonomi Thailand 8%, India 9%, Malaysia 8,5%, dan Singapura 15%.

Dari berbagai permasalahan yang terjadi tersebut, nampaknya selama setahun pemerintahan SBY-Boediono, banyak pekerjaan rumah yang harus segera dikerjakan, sserta lebih ditingkatkan lagi ke arah yang lebih baik dari segala sektor, baik hukum, ekonomi, pendidikan, politik dan kemanan, sosial budaya, dll.


[1] Unjuk rasa dimana-mana: peringati setahun pemerintahan Yudhoyono-Boediono, Pikiran Rakyat, Kamis 20 Oktober 2010, hal. 1

[2] Korban Ledakan Gas Meninggal, PR 20 Oktober 2010, Hal. 3

[3] Rapor Merah untuk Yudhono, PR, 20 Oktober 2010 hlm.1

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: